tumpulkah jiwamu? (a writer’s block)

Image

Ia berpikir, “Jika aku mulai menuliskan jalan hidupku, tak akankah seseorang menggunakan informasi itu untuk berbalik menyerangku?” Pikiran yang aneh, selalu, tanpa alasan yang ia ketahui. Dirinya memang seperti itu, tak dapat sedetik pun mengistirahatkan pikirannya, kecuali di saat-saat ia terduduk lesu, kepala bersandar pada dinding, membiarkan angin sore yang dingin menyentuhnya, melewatinya, mengelilinginya, mengurungnya, sekaligus membawa jiwanya pergi. Di saat-saat langka seperti itu, siapapun yang melihat wajahnya pasti akan bergidik ketakutan karena kau tentunya tahu seperti apa rupa wajah TANPA jiwa.

Ia sangat ingin, seperti kubilang, menuliskan berbagai macam pikiran yang mengerubungi benaknya seperti sekawanan lebah gila yang kemudian berlalu-lalang di jalan raya syarafnya. Padat! Bising! Sepanjang hari. Bahkan, ketika jam di telepon genggamnya menunjukkan akhir malam, pikiran-pikiran itu masih juga enggan terurai. Tetapi, tak semudah itu ia menggerakkan jemarinya untuk menulis. Saat ia menghadapi kertas kosong, ia menjelma orang bodoh yang tidak memiliki apapun untuk ditulis…sampai hari ini, setelah ia berhasil sedikit meredakan sakit kepalanya dengan secangkir teh rempah.

Begitulah. Dengan gagah berani ia meraih buku catatan yang cukup usang dan berdebu karena terlampau lama disimpannya. Ia tidak dapat memikirkan satu hal pun untuk ditulis. Pengetahuan demi pengetahuan menjejali pikirannya, hari demi hari. Namun, tak satu pun dari pengetahuan itu melahirkan inspirasi.
“Beginilah,” ia mulai mencoret, “Apalah artinya otak tanpa jiwa? Gagasan tanpa makna?” Ia berhenti, menengadahkan wajah. Tidak dapat menulis kala berpikir, ujarnya dalam hati. Tidak ada satu pun yang bagus untuk ditulis.

Sesuatu yang bagus untuk ditulis? Ah, beginilah ia setelah jiwanya mati, selalu memikirkan hasil, prestasi, pencapaian. Malu mengakui bahwa segala sesuatu yang diketahuinya tidak dapat membawanya ke manapun dalam menulis. Sesuatu yang dulu sangat alami baginya, menulis berjam-jam hanya atas dorongan impuls, kini menjadi asing, impersonal. Ia bahkan merasa harus memikirkan sesuatu yang bagus untuk ditulis? Bah!

Sudah tumpulkah jiwamu? Tersumbatkah energi kemurnianmu? Gairah yang dulu tak pernah habis untuk mencerap warna-warna, satu dan lainnya, untuk melesat dengan kecepatan cahaya, tak pernah habis?
Sudah cukupkah kau rasa? Matikah karena kenyataan sehari-hari, dunia nyata yang kau temui sebagai orang dewasa? Telah semakin sadarkah kau akan pertentangan dan konsekuensi dari identitasmu, bukan dari dirimu? Tercekikkah engkau oleh pengharapan, ekspektasi, perlakuan dunia atas dirimu? Atas jiwamu? Terpenjarakah pikiranmu?!

Telah hilangkah….gumpalan-gumpalan kebahagiaan dalam warna merah jambu yang membuatmu tersedak atau menahan napas? Ke mana perginya mereka?

Ah…kasihan sekali dirimu, membungkuk di atas meja dengan wajah menyesal…menutup kembali buku itu dengan hanya sederet kata di dalamnya, “Beginilah…otak tanpa jiwa…”

Kau hela napasmu itu, berat…

 

 

Apakah kita sudah menyerah?

Aku membaca, dan diingatkan kembali, tentang perjalanan. Perjalanan yang kumaksud bukanlah sebuah gaya hidup yang kini ramai dibicarakan dan digembor-gemborkan. Ia adalah hidup itu sendiri. Perjalanan itu tidak selalu dalam bentuk yang lahir, ia bisa saja berlangsung di dalam. Diam-diam. Dalam senyap.

“Apakah kita pernah berhenti sejenak untuk memeriksa di titik mana sebenarnya kita telah menyerah?” Pertanyaan itu melintas di benakku yang sekian lama membeku: oleh rutinitas, oleh tanggung jawab, dan segala ‘harus’ yang kukerjakan hari demi hari. Aku merasa kesedihan ini telah menggerogoti jiwaku sedemikian rupa, meskipun sebagian diriku yang lain (yang sepertinya mewakili pendapat umum) menganggapku hanya bersikap manja dan harus segera kembali menegakkan kepala. Bagaimanapun juga, hidup ini adalah sebuah perjuangan, dan sikap manja hanyalah salah satu bentuk ketololan dan ketidakbersyukuran, teriaknya keras-keras di sudut kepalaku. Selalu memiliki dua suara yang bertentangan di kepala seperti pertandingan tinju tidaklah membantu, terutama karena aku tidak bisa menonton tinju tanpa meringis dan memejamkan mata.

Oya, berbicara tentang kesedihan, ada lirik yang sangat indah dari sebuah kelompok musik yang sangat terkenal: “we must free up these tired souls, before the sadness gets us both.” Aku bertanya pada sahabatku (yang akhir-akhir ini ternyata mulai menulis di saat aku sudah berhenti melakukannya), “Apakah mengakui ketidakbahagiaan dan kesedihan hanyalah sebuah sikap manja dan lemah, ataukah itu sebuah langkah awal yang berani dari perjalanan panjang untuk menemukan hal-hal yang benar-benar membuat kita bahagia?” Pertanyaan lain yang tidak kuucapkan sebetulnya adalah “Apakah hidup itu sebenarnya untuk mencari kebahagiaan atau sekadar berjuang dan lantas menerima apa yang sudah digariskan, bahagia atau tidak?” Aku tak mengatakannya karena sesungguhnya aku takut akan jawabannya.

Bagi sahabatku, salah satu bentuk kebahagiaan adalah memiliki kendali akan waktu. “Baru berusaha mengenal anak-anak kita setelah mereka mulai beranjak dewasa adalah sudah sangat terlambat,” ujarnya lirih, membuatku mengusap-usap perutku yang isinya masih sekadar tumpukan keripik balado. Ketika ia bertanya padaku, jawabanku tidak sejelas biasanya. Aku malu akan jawabanku yang begitu abstrak.

Aku ingin bangun setiap pagi dengan semangat yang membara dalam diriku untuk menjalani dan menaklukan hari itu, bukan dengan bertanya-tanya apa yang sebenarnya sedang kulakukan di sini. Aku ingin kembali merasakan deru serupa laju kereta api yang membuatku menggigil karena antusias dalam melakukan apa yang selalu ingin kulakukan: membimbing sekelompok orang dalam petualangan mencari ilmu yang menggairahkan. Aku ingin keberadaanku menjadi semacam inspirasi bagi orang-orang yang dapat kutatap wajah-wajahnya dan mendapatkan hal yang sama dari orang-orang di sekitarku: ambrosia, makanan para dewa. Dan untuk mencapai semua itu, yang pertama-tama kubutuhkan adalah waktu! Ya, dan keberanian untuk meninggalkan titik di mana aku telah menyerah.

If it were up to me

If it were up to me, I wouldn’t be alive. My life is not disagreeable for me, far from that, but my mind never likes the idea of being alive, especially upon this very earth. Maybe it has something to do with my bare soul. You will find me playing with words. I live on the border of hypocrisy, although I am rather a social conformist most of the time. I don’t like confrontations. I don’t like arrogance. I don’t like people plunging their nose into my affairs without even having the intention to get to know me. They always claim that they know the best for me. In fact, I believe that few people really give a damn about me.

You will find me loaded with negativity. And remember, I use profanity, and I don’t feel like restraining except for social courtesy purposes. You will find me not conveying my thoughts all the time. I am sick of the concealment, but a disclosure would break the world I live in. This play-it-safe attitude restrains me from being me, and that’s the way it is. I don’t believe in sincerity, that’s why I keep searching for it. My whole life is a pretense.

I am bound to keep rationalizing and justifying it. But I am not done searching yet, although I don’t believe in most anything.

Hope is always a mirage. But I am not done searching yet, still in an eternal search of The One thing that will falsify all my present beliefs.

maafkan dirimu

Ya, saat ini mungkin kau tak punya apa-apa
untuk diperlihatkan kepada mereka,
bahkan mungkin kau masih terlihat ada di tempat yang sama
Mereka tidak tahu
Mereka tidak perlu tahu
Saat kau berdiri di tempat yang sama,
kau baru saja bangkit setelah menabrak tembok untuk kesekian kali
Dan mereka tidak perlu mengerti,
karena kau pun berjuang keras untuk mengerti dirimu sendiri
Mereka bisa saja berkata,
kau terlalu malas dan keras kepala
Bahwa kau terlalu arogan, tidak segera belajar, dan menjadi dewasa
Dan bisa jadi semua hal yang mereka katakan tentang dirimu itu benar
Bahwa itu adalah kenyataan
Tapi tiap kenyataan tidak harus berarti abadi
Mungkin kau punya terlalu banyak alasan dan menyalahkan orang lain
Mungkin benar kau pemalas bodoh yang sombong
Bisa jadi kau punya terlalu banyak monster di dalam kepalamu
Kau tahu itu semua benar,
karena seumur hidup kau berjuang melawan mereka
Jadi,
maafkan saja dirimu dan semua kebodohanmu
Ketidakmengertianmu atas segala yang terjadi
Maafkan dirimu sendiri dan berjalanlah
Karena masa depan cerah tidak terlalu dekat terlihat
Tapi, toh, kau masih terus berjalan.
Terseok, tak mengapa.
Selama api itu masih menyala.
Seumur hidup mungkin kau akan terus gagal
Tapi kau tahu, kau tak pernah berhenti dan menyerah
Tidak sekali pun
Maafkan dirimu dan kebodohanmu
Berjalanlah
Semesta memberkatimu penuh

Februari 2015

end up

We’re lost, found, and lost again,

Yet we seldom realize

That we’re on a Journey

We fold, we shrink, we raise

But we seldom stop to think what we’re up against

Sometimes, after a long nasty fight,

We end up against ourselves…

I’m not alone at being alone :)

Just cast away
And I am lost at sea
Another lonely day
And no one here but me
More loneliness
Than any man could bear
Rescue me
Before I fall into despair

I send an SOS to the world
I hope that someone gets my
Message in a bottle

A year has passed since
I wrote my note
I should have known it
Right from the start
Only hope can
Keep me together
Love can mend your life but
Love can break your heart

Walked out this morning
I don’t believe what I saw
A hundred billion bottles
Washed up on the shore
It seems I’m not alone at
Being alone
A hundred million castaways
All looking for a home

John Mayer_”Message in a Bottle”

Acceptance and surrender

There is nowhere to run to. There is nothing to do except be in this moment and allow what is to be. From that place of radical acceptance, major change can happen. The first step in any transformational experience is acceptance and surrender to the present moment, the way that it is. From that place, we have awareness, humility, and power to change what is.

E.K